Menyelamatkan Ekonomi Melalui Praiwisata Indonesia


UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)

 EKONOMI MIKRO



Disusun oleh,

Mursiyah
Program Studi Akuntansi
STIE MBI /LP3i
NIM : 21020083


Dosen Pengampu
Eko Yulianto, ST., MM


Tangerang Selatan, 16 Desember 2021


PENDAHULUAN

        I. Latar Belakang

Proses pembangunan ekonomi yang di lakukan di segala bidang pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.Oleh karena itu keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi akan menjadi kunci keberhasilan di bidang lainnya. Pada umumnya orang meninjau bahwa kemunduran suatu perekonomian ataupun adanya kesempatan untuk berkembang maju bagi suatu masyarakat dapat di lihat dari sedikit banyaknya faktor – faktor produksi yang dimiliki daerah tersebut. Dalam ilmu ekonomi pada umumnya berkisar pada: alam,tenaga kerja,modal dan manajemen. Produksi yang baik dan berhasil ialah produksi yang dengan menggunakan empat faktor tersebut,Bisa menghasilkan barang – barang sebanyak–sebanyaknya dengan kualitas semanfaat – manfaatnya.

Berdasarkan urian diatas terlihat bahwa tanpa mengabaikan faktor produksi lain, Ibnu Kaldun, didalam kitabnya Muqaddiimah, mengatakan bahwa industri maupun produksi merupakan suatu yang sangat penting dalam sebuah negara, kekayaan Negara tidak di tentukan oleh banyak uangnya, tetapi oleh tingkat produksi dan neraca pembayaran positif. Sektor produksilah yang menjadi motor pembangunan meningkatkan kesejahteraan keluarga,serta menimbulkan permintaan faktor produksi lainnya.

Ekonomi Islam sangat mendorong produktifitas dan mengembangkannya baik kuantitas maupun kualitas. Islam melarang menyianyiakan potensi material maupun potensi sumberdaya manusia. Bahkan Islam mengarahkan semua itu untuk kepentingan produksi menjadi suatu yang unik sebab di dalamnya terdapat faktor profesionalitas yang di ciptakan oleh Allah dan insan yang diwajibkan Allah atas segala sesuatunya. Seperti dalam Firman Allah dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 105:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: "Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."

Betapa pentingnya peranan sumber daya alam dalam pertumbuhan perekonomian suatu Negara. Indonesia memilki sumber daya alam yang cukup potensial dalam melaksanakan ekonominya. Salah satu sumber daya alam yang ada di bumi, seperti daratan, pegunungan, dan lautan.

Sehingga segala yang ada di alam ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia. Dengan sumberdaya alam yang sangat sempurna yang ada di indonesia yang jika dibandingkan dengan negara-negara dunia manapun, indonesia adalah negara dengan tatanan alam yang sempurna karena semua cakupan dimiliki oleh indonesia. Yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia dan menjadi potensi pertumbuhan ekonomi.

II.   Definisi Ekonomi Mikro

Ekonomi mikro sebagai suatu ilmu yang mempelajari perilaku produsen dan konsumen juga penentuan kuantitas faktor input, serta barang atau jasa apa saja yang kemudian akan diperjual-belikan dengan mengacu kepada harga pasar.

Beberapa aspek analisis dalam ekonomi mikro sendiri diantaranya Model-model pasar, Industri, Analisis manfaat, Teori permintaan, Analisis biaya dan penawaran, Elastisitas, Teori produksi hingga Teori harga. Selain itu ekonomi mikro juga berperan dalam membuat kebijakan perusahaan mengenai pengelolaan sumber daya seperti pengelolaan harga.

Adanya kebijakan dalam perusahaan juga dapat menjadikan perusahaan lebih strategis dan inovatif. Ekonomi mikro sangat berperan dalam memprediksi hingga merancang strategi suatu perusahaan kedepannya. Ekonomi mikro akan mempermudah suatu perusahaan dalam memahami Perilaku, kemauan dan kebutuhan konsumen.

III. Pengertian Ekonomi Mikro menurut pendapat ahli

Berikut ini beberapa definisi ekonomi mikro menurut para ahli:

1.   Mary A Marchant dan William M Snell

Ekonomi mikro merupakan kajian terkait individu, rumah tangga, dan perusahaan pengambil keputusan dalam proses ekonomi.

 

2.  David A. Moss

Ekonomi mikro sebagai Langkah penganalisisan sebuah keputusan yang dibuat oleh individu atau kelompok mulai dari Faktor-faktornya hingga ke pertimbangan akan biaya dan manfaatnya.

 

3.  Adam Smith

Melihat adanya berbagai pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan yang dipilih oleh pelaku ekonomi.

 

4.  N. G. Mankiw

    Dalam bukunya ia menulis, pengertian ekonomi mikro adalah ilmu yang membahas tentang peran individu-individu pelaku ekonomi, bagaimana rumah tangga dan perusahaan membuat keputusan, serta bagaimana mereka berinteraksi di dalam pasar tertentu.


5.   Sadono Sukirno

Dalam buku Ekonomi Mikro Teori Pengantar, Sadono Sukirno menyatakan bahwa pengertian ekonomi mikro adalah cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan. Mikroekonomi sendiri berfungsi menganalisis bagaimana segala keputusan dan juga perilaku tersebut mempengaruhi penawaran dan juga permintaan atas barang dan jasa yang akan menentukanharga, menentukan penawaran serta juga permintaanbarang dan jasa selanjutnya.

 

6.  David Ricardo

Menurut David Ricardo pengertian ekonomi mikro ini ialah suatu kondisi yang mana para pelaku ekonomi sudah mempunyai informasi mengenai seluk beluk sebuah pasar. Dengan begitu ekonomi makro tersebut merupakan faktor penentu dari pasa ekonomi global.

 

7.  Marshal dan Piqou

Menurut Marshal dan Piqou, pengertian ekonomi mikro ini ialah tingkat mobilitas yang tinggi didalam pasar sehingga membuat para pelaku ekonomi tersebut dapat langsung beradaptasi atau juga menyesuaikan perubahan-perubahan yang ada di pasar.


IV.  Ruang Lingkup Ekonomi Mikro

      Ekonomi Mikro sendiri memiliki ruang lingkup yang luas seperti pembahasan yang ada pada buku Ekonomi Mikro oleh Dr. H. Bachrudin Sjaroni, Se., MM Noveria S, SE., MM Edi Djunaedi, SE., MM.

Ruang lingkup ekonomi mikro sendiri mempelajari seputar hal-hal yang melingkupi perilaku konsumen dan pasar di sektor individu atau perusahaan. Konsumen dan produsen sendiri merupakan individu pada setiap rumah tangga, organisasi, masyarakat, dan perusahaan. Ketahui apa saja ruang lingkup pada ekonomi mikro, berikut ini beberapa diantaranya:

1. Interaksi di Pasar Barang

Pasar merupakan tempat pertemuan antara permintaan dan penawaran. Pasar juga menjadi tempat dimana penjual dan pembeli dapat bertemu untuk dapat melakukan transaksi jual-beli.

2. Perilaku Penjual dan Konsumen

Keduanya memiliki sifat yang rasional, dimana penjual menginginkan keuntungan maksimal, dan pembeli menginginkan kepuasan optimal dari segi Kualitas dan Harga produk. Dalam menganalisis perilaku antara penjual dan pembeli, ada 3 asumsi yang dapat diperhatikan yaitu Aktivitas ekonomi antara penjual dan pembeli terjadi secara terbuka dan rasional.

3. Interaksi di Pasar Faktor Produksi

Dari sisi penjual memiliki produk yang memenuhi kebutuhan manusia juga membutuhkan faktor produksi dengan cara membelinya, sementara dai consumen membutuhkan uang dalam pemebuhan kebutuhannya.

4. Teori Nilai Guna

Mempelajari bagaimana suatu barang menghasilkan kegunaan atau kepuasan pada konsumen yang membeli atau mempergunakan barang produksi tersebut.

5. Teori struktur pasar

Menjelaskan penggolangan pasar berdasarkan pada jumlah perusahaan, karakteristik atau jenis produk serta kemudahan perusahaan atau produsen untuk masuk dan keluar dari suatu pasar.

Struktur pasar akan dinyatakan sebagai struktur pasar yang non-kompetitif ketika terdapat perusahaan yang tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah barang dan harga di pasar tersebut.

Sebaliknya, jika perusahaan memiliki kekuatan atau kemampuan untuk mempengaruhi jumlah barang yang beredar atau harga barang yang ada di pasar, maka struktur pasar tersebut dikatakan sebagai struktur pasar yang kompetitif.

6. Elastisitas Harga

Mempelajari bagaimana harga-harga suatu barang maupun jasa terbentuk di pasar. Harga ini dipengaruhi oleh seberapa banyaknya jumlah permintaan.

7. Industri

Mempelajari bagaimana arus perputaran barang dan jasa dapat terbentuk. Ia juga Menganalisis barang produksi, produsen, konsumen, dan distribusi dalam hal kemungkinan rasional dalam pengambilan keputusan ekonomi.

8. Pasar Input

Mempelajari bagaimana produsen dapat memperoleh bahan-bahan produksi dengan biaya seminimal mungkin namun menghasilkan barang atau jasa yang memiliki nilai jual tinggi.

V.   Kondisi Ekonomi Mikro di Indonesia

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun 2021 menjadi 4,5 persen. Kinerja perekonomian terus mengalami perbaikan sehingga memberikan optimisme pemulihan ekonomi seiring keberhasilan penanganan Covid-19 dan berbagai program perlindungan sosial untuk melindungi masyarakat.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada tahun 2021 diperkirakan tumbuh sekitar 4 persen. Kinerja perekonomian di kuartal keempat berpotensi rebound dan didukung dari rebalancing dari berbagai kegiatan ekonomi.

Di sisi lain, surplus neraca perdagangan masih berlanjut di bulan September 2021 sebesar 4,37 miliar dollar AS. Capaian ini merupakan hasil dari surplus non migas di mana kinerja kumulatifnya untuk tahun 2021 lebih tinggi dibandingkan tahun 2020. Hal ini membuat Indonesia sudah mengalami surplus neraca perdagangan nonmigas 16 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Sehinga hal Ini yang menimbulkan optimisme terhadap kegiatan ekonomi Indonesia yang akan terus membaik.

VI.   Pembahasan studi kasus

“Menyelamatkan Ekonomi melalui Pariwisata Indonesia”

Pandemi Covid-19 telah menghantam industri pariwisata dan ekonomi kreatif di indonesia. Tidak main-main, sejak Februari 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis, dan puncaknya terjadi pada April 2020 dengan jumlah wisatawan hanya sebanyak 158 ribu, sesuai dengan data  rangkuman Kemenparekraf  pada buku Tren Pawisata 2021

Jika ditotal, sepanjang tahun 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Infonseia hanya sekitar 4.052 juta orang. Bisa dibilang, angka tersebut sangat memprihatinkan, karena dari total tersebut hanya sekitar 25% dari jumlah wisarawan yang masuk ke Indonesia pada 2019.

Hal ini pun berdampak pada pendapatan negara di sektor pariwista. Adanya pembatasan sosial berskala besar dan ditutupnya akses keluar-masuk Indonesia, menyebabkan penurunan pendapatan negara disektor pariwitasa sebesar Rp. 20,7 Miliar.

 

Dampaknya pandemi Covid-19 pada sekor pariwisata Indonesia juga terlihat dari pengurangan jam kerja, sekitar 12,91 juta orang di sektor pariwisata mengalami pengurangan jam kerja, dan 939 ribu orang di sektor pariwisata sementara tidak bekerja.

Di sisi lain, pademi Covid-19 juga berdampak langsung pada berbagai lapangan pekerjaan di sektor pariwisata. Menurut data BPS 2020, sekitar 409 ribu tenaga kerja disektor pariwisata kehilangan pekerjaan akibat pandemi covid-19.


Langkah “Menyelamatkan” Ekonomi melalui Pariwisata Indonesia

Berbagai upaya dilakukan untuk menyemalatkan ekonomi salah satunya melalui sektor pariwisata Indonesia. Ada tida fase “penyelamatan” yang di lakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatig (Kemenparekraf), yaitu Tanggap Darurat, Pemulihan dan Normalisasi.

 

Fase Tanggap Darurat fokuskan pada kesehatan, seperti menginisiasi program perlindungan sosial, mendorong kreativitas dan produktivitas saat WFH melakukan koordinasi krisis pariwissata dengan daerah pariwisata, seta melakukan persiapan pemulihan.

Selanjutnya adalah fase pemulihan, di mana dilakukan pembukaan bertahap tempat wisata di Indonesia. Persiapan sangat matang, melalui dari penerapan protokol kesehatan di tempat wisata, serta mendukung optimalisasi kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, and Exhibition) di Indonesia.

Terakhir adalah fase Normalisasi, yaitu persiapan destinasi fengan Protokol kesehatan, meningkatkan minat pasar, sehingga diskon untuk paket wisata dan MICE. Salah saru program yang telah di laksanakan adalah Virtual Travel fair  sejak bulan Agustus-September 2020.



Ilustrasi saat wisatawan atau pengunjung resto wajib mengikuti prorokol kesehatan dengan bermasker dan melakukan cek suhu tubuh.


Berubahnya Tren Pariwisata di tengah Pandemi Covid-19

Kunci utama bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif agar dapat bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik. Pasalnya, saat ini pelaku masyarakat mulai beribah, dan dibarengi dengan tren pariwisata yang telah bergeser. Contoh paling simpelnya, sebelum pandemi kita bisa bebas berlibur ke destinasi wisata di Indonesia maupun luat negeri. Namun, adanya pandemi menyebabkan tren pariwisata berubah, seperti libuaran tanpa banyak bersentuhan dengan orang lain afar tetap aman, yaitu Staycation.

Karena hotel atau penginapan cukup berdampak akibat pandemi, tentu sebagai pelaku industri perhhotelan atau penginapan  tidak bisa hanya mengandalkan Staycation. Penyedia hotel atau penginapan juga harus mulai beradaptasi agar bisa bertahan, seperti menawarkan WFH (Work From Hotel), sehingga dilengkapinya sertifikat Kesehatan dari Kemenparekraf agar pengunjung merasa lebih aman saat berlibur.

Keinginan liburan tanpa banyak bertemu orang lain pun mengubah tren layanan paket wisata. Para pelaku industri pariwisata harus mulai memberikan layanan paket wisata ekslusif atau mini group,  agar wisatawan merasa lebih aman dan meminimalisair porensi penularan virus saat liburan.


Sedangkan dari sisi destinasi wisata, banyak tempat wisata yang terpukul akibat pandemi covid-19, bahkan ada yang terpaksa ditutup karena sepi pengunjung. Untuk itu, para pelaku pariwisara harus memanfaatkan teknolohi yang berperan penting dalam mendukung tren pariwisata yang bergeser di tengah pandemi, salah satunya dengan virtual tourism  untuk liburan online.

Tidak kalah penting, bergesernya tren pariwisata di indonesia juga berdampak pada beberapa usaha restoran, agar dapat bertahan, tentu saja pelaku industri restoran harus berinovasi seiring dengan pergeseran prilaku dan kebiasaan para konsumen.


Karena sekitar 70% orang menggunakan layanan food online (delivery, take away, dan catering) dimasa pandemi covid-19. Maka sudah seharusnya pihak testoran memberikan layanan take away dengan menerapkan contactless service.

Bahkan, diperkirakan konsep outdor dining akan menjadi sangat populer setelah pandemi usai. Hal ini disebebkan karena masyarakat akan tetap patuh terhadap protokol kesehatan, dan menjaga jarak dengan lainya untuk meminimalkan kontaminasi virus


Itulah beberapa langkah-langkah dalam meningkatkan tren pariwisata Indonesia di tengah pandemi, atau bahkan hingga pandemi usai. Dengan strategi atau langkah-langkah diatas diharapkan dapat kembali membangkitkan sektor pariwisata dan menyelamatkan ekonomi dari sektor pariwisata yang terpuruk saat pandemi melanda.


Adanya pandemi COVID-19 telah mengubah lanskap industri pariwisata serta perilaku konsumen atau wisatawan yang telah menyesuaikan diri dengan kondisi new normal. Maka, para pemain di industri pariwisata harus bisa segera beradaptasi dengan ‘disrupsi’ new normal agar bisa bertahan dan bangkit.


VII.   Kesimpulan, saran dan solusi

Mengingat terdapat peraturan PPKM/PSBB atau istilah lainnya yang dilakukan pemerintah pusat guna sebagai langkah pencegahan penularan covid-19, dan dengan adanya tren pariwisata yang di galakan oleh Kemenparekraf  guna menyelamatkan Ekonomi di sektor Pariwisata tersebut dianggap sebagai suatu kebijakan yang kontradiktif karena bertentangan dengan aturan sebelumnya, sehingga mendapatkan beragam respon pro dan kontra dari masyarakat.

“Dengan adanya berbagai respon di kalangan masyarakat, pemerintah pun membuat aturan baru dimana hanya penduduk asli setempat atau pendudukan dalam kota yang diperbolehkan wisata. Jika pengunjung dari luar kota melakukan wisata, dikhawatirkan akan membahayakan dan menambah laju penyebaran Covid-19. Namun hal itu perlu pengawasan ketat bagi masyarakat agar tetap menjalankan Protokol Kesehatan (Prokes),”

terbatasnya mobilitas masyarakat akibat pandemi Covid-19 serta ditutupnya tempat-tempat rekreasi dan hiburan memberikan dampak ekonomi cukup besar terhadap sektor pariwisata.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dikatakan membuat masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah dan tingkat hunian kamar hotel serta restoran menurun drastis sebagai imbas dari hal tersebut. Sehingga dampaknya pada sektor pendukung pariwisata dan ekonomi kreatif seperti transportasi cukup besar. Namun demikian, pelonggaran PSBB yang diberlakukan oleh beberapa pemerintah daerah membuat perlahan geliat ekonomi nasional mulai bergerak. Dan  berharap kegiatan pariwisata dapat kembali mendorong perekonomian nasional.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2020 terkontraksi sebesar -5,32 persen atau yang terendah sejak 1999.
Pelaku di sektor pariwisata sudah “naik kelas” artinya mereka mempunyai kapabilitas yang luar biasa, yaitu concern mereka di kesehatan, keamanan dan keselamatan (K3). Namun pandemi ini juga menimbulkan peluang pelaku usaha parekraf antara lain, perubahan model bisnis dari yang traditional tourism management menjadi digital tourism management akan menjadi peluang dalam mempertahankan dan memulihkan sektor pariwisata nasional, lalu sektor ekonomi kreatif berbasis digital juga dapat meningkatkan kontribusi terhadap PDB, selanjutnya orientasi segmen pasar berubah dari wisatawan mancanegara menjadi wisatawan nusantara.

Dengan adanya pandemi ini harus bisa merubah masyarakat menjadi pelaku usaha yang kreatif untuk terus membangkitkan ekonomi dimasa pandemi atau bahkan hinga pandemi usai. 



























 














Komentar